Kamis, 07 Mei 2015

Proposal Tesis : Efektivitas Pelatihan Kecerdasan Emosi Terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Pada Remaja



PROPOSAL TESIS

EFEKTIVITAS PELATIHAN  KECERDASAN EMOSI TERHADAP PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA



TESIS
Disusun guna memenuhi syarat derajat Magister Profesi Psikologi















Nama               :  Siti Aesijah
NIM                : T. 100 090 137

MAGISTER PROFESI PSIKOLOGI
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013


BAB  I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Konsekuensi dari rendahnya tingkat rasa percaya diri, untuk sebagian  hanya menyebabkan rasa tidak nyaman secara emosional (Damon dalam Santrock, 2003). Tetapi bagi beberapa remaja, rendahnya rasa percaya diri dapat menimbulkan banyak masalah. Rendahnya rasa percaya diri bisa menyebabkan depresi, bunuh diri, anoreksia nervosa, delinkuensi, dan masalah penyesuaian diri lainnya (Damon & Hart, dkk. dalam  Santrock, 2003). Tingkat keseriusan masalah tidak hanya tergantung pada rendahnya tingkat rasa percaya diri, namun juga kondisi-kondisi lainnya. Ketika tingkat rasa percaya diri yang rendah berhubungan dengan proses perpindahan sekolah atau kehidupan keluarga yang sulit, atau dengan kejadian-kejadian yang membuat tertekan, masalah yang muncul pada remaja dapat menjadi lebih meningkat (Rutter & Garmezy, dkk., dalam Santrock, 2003).
Menurut Erikson, remaja seharusnya mampu mengatasi masalah dalam dirinya, sehingga dapat menentukan masa depannya. Intinya remaja harus memiliki rasa percaya diri dengan apa yang mereka punya dan mampu memanfaatkan potensinya (dalam Iswidharmanjaya & Agung, 2004).
Dampak utama yang muncul dari adanya rasa tidak percaya diri adalah dampak psikologis, dimana remaja yang merasa dirinya tidak bisa berbaur sulit untuk menunjukkan potensi yang dimilikinya, dan menyebabkan mereka tidak bisa berkembang untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Siswa menjadi pendiam dan menutup diri, karena ia sulit untuk bersosialisasi dan tidak percaya diri untuk bergaul dengan teman-temannya yang lebih mampu. Dampak-dampak psikologis lain yang muncul dikarenakan kurangnya rasa percaya diri adalah siswa menjadi kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang baru, mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu, menyapa temannya, dan menyatakan pendapat (Triswanto, 2005).
Rendahnya rasa percaya diri yang dimiliki remaja menunjukkan bahwa remaja resebut memiliki kecerdasan emosi yang rendah (Hankin, 2004).

 B. RUMUSAN MASALAH

Apakah pelatihan kecerdasan emosi dapat dijadikan salah satu model  pelatihan untuk meningkatkan kepercayaan diri remaja pada ..... Permasalahan tersebut perlu ditindaklanjuti secara empiris dengan melakukan penelitian berjudul : “ Pengaruh Pelatihan Kecerdasan Emosi terhadap Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja pada ....”

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan yang akan dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pelatihan pelatihan kecerdasan emosi terhadap peningkatan kepercayaan diri remaja pada ...

      D. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1.         Secara teoritis, hasil penelitian akan menjadi informasi yang dapat memperkaya hasanah ilmu pengetahuan, khususnya dalam pengembangan pelatihan-pelatihan dalam praktek profesi psikologi.
2.         Secara praktis
a.       Bagi pihak Lembaga Panti Asuhan hasil penelitian ini memberikan hasil empiris bagaimana pengaruh pelatihan kecerdasan emosi terhadap peningkatan kepercayaan diri remaja di Panti Asuhan Yatim & Dhuafa “Tarbiyatul Mubtadi’in” Ngampel Kendal sehingga dapat dijadikan sebagai model yang dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan diri.
b.      Bagi peneliti selanjutnya, hasil kajian penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang memerlukan.




BAB II
LANDASAN TEORI

AA. KEPERCAYAAN DIRI
1.      Pengertian Kepercayaan Diri
Rasa Percaya diri (Self-confidence) adalah dimensi evaluatif yang menyeluruh dari diri. Rasa percaya diri juga disebut sebagai harga diri atau gambaran diri (Santrock, 2003).  Menurut George dan Cristian kepercayaan pada diri sendiri  adalah kemampuan berfikir rasional (rational belief) berupa keyakinan, ide-ide dan proses berfikir yang tidak mengandung unsur keharusan yang menuntut individu sehingga menghambat proses perkembangan dan ketika menghadapi problem atau persoalan mampu berfikir, menilai, menimbang, menganalisa, memutuskan dan melakukan.
Percaya diri (self confidence) merupakan modal utama seseorang untuk mencapai sukses. Orang yang mempunyai kepercayaan pada diri sendiri berarti orang tersebut sanggup, mampu, dan meyakini dirinya bahwa ia dapat mencapai prestasi yang diinginkannya (Gunarsa, 1989).
Menurut Martini dan Adiyati (dalam Alsa, 2006) , kepercayaan diri adalah sebagai suatu keyakinan seseorang untuk mampu berperilaku sesuai dengan yang diharapkan dan diinginkan. Apabila seseorang tidak memiliki kepercayaan diri maka banyak masalah akan timbul karena kepercayaan diri merupakan aspek kepribadian dari seseorang yang berfungsi penting untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya. Kepercayaan diri adalah satu aspek kepribadian yang terbentuk melalui interaksi individu dengan lingkungannya (dalam Afiatin & Budi Andayani, 1996)
Lautser (dalam Alsa, 2006) menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan sendiri sehingga individu yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam setiap tindakan, dapat bebas melakukan hal-hal yang disukai dan bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan, hangat dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, dapat menerima dan menghargai orang lain, memiliki dorongan berprestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri.
Menurut Corsini kepercayaan diri adalah kepercayaan terhadap kemampuan, kapasitas serta pengambilan keputusan (judgement) yang terdapat dalam dirinya sendiri (dalam Marko Santoso, 2005).
Berdasar definisi-definisi yang telah dikemukakan maka dapat disimpulkan kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau perasaan yakin atas kemampuan sendiri sehingga individu yang bersangkutan tidak terlalu cemas dalam setiap tindakan, dapat bebas melakukan hal-hal yang disukai dan bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan.
2.      Ciri-ciri Kepercayaan Diri
Teori Lauster (dalam Alsa, 2006) tentang kepercayaan diri mengemukakan ciri-ciri orang yang percaya diri, yaitu:
a.       Percaya pada kemampuan sendiri yaitu suatu keyakinan atas diri sendiri terhadap segala fenomena yang terjadi yang berhubungan dengan kemampuan individu untuk mengevaluasi serta mengatasi yang terjadi tersebut.
b.      Bertindak mandiri dalam mengambil keputusan yaitu dapat bertindak dalam mengambil keputusan terhadap diri yang dilakukan secara mandiri atau tanpa adanya keterlibatan orang lain dan mampu untuk meyakini tindakan yang diambil.
c.       Memiliki rasa positif terhadap diri sendiri yaitu adanya penilaian yang baik dari dalam diri sendiri, baik dari pandangan maupun tindakan yang dilakukan yang menimbulkan rasa positif terhadap diri dan masa depannya.
d.      Berani mengungkapkan pendapat yaitu adanya suatu sikap untuk mampu mengutarakan sesuatu dalam diri  yang ingin diungkapkan kepada orang lain tanpa adanya paksaan atau rasa yang dapat menghambat pengungkapan tersebut.
Ada dua jenis kepercayaan diri yaitu percaya diri lahir dan percaya diri batin. Percaya diri yang memberikan kepada kita perasaan dan anggapan bahwa kita dalam keadaan baik. Jenis percaya diri lahir memungkinkan individu untuk tampil dan berperilaku dengan cara menunjukkan kepada dunia luar bahwa kita yakin akan diri kita. Lindenfield (1994) mengemukakan empat ciri utama seseorang yang memiliki percaya diri batin yang sehat, keempat ciri itu adalah:
a.       Cinta Diri
Orang yang cinta diri mencintai dan menghargai diri sendiri dan orang lain. Mereka akan berusaha memenuhi kebutuhan secara wajar dan selalu menjaga kesehatan diri. Mereka juga ahli dalam bidang tertentusehingga kelebihan yang dimiliki dapat dibanggakan. Hal ini yang menyebabkan individu tersebut menjadi percaya diri.
b.      Pemahaman Diri
Orang yang percaya diri batin sangat sadar diri. Mereka selalu introspeksi diri agar setiap tindakan yang dilakukan tidak merugikan orang lain.
c.       Tujuan Yang Jelas
Orang yang percaya diri selalu tahu tujuan hidupnya. Ini disebabkan karena mereka mempunyai alasan dan pemikiran yang jelas dari tindakan yang mereka lakukan serta hasil apa yang mereka dapatkan.
d.      Pemikiran Yang Positif
Orang yang percaya diri biasanya merupakan teman yang menyengkan, salah satu penyebabnya karena mereka terbiasa melihat kehidupan dari sisi yang cerah dan mereka yang mengharap serta mencari pengalamandan hasil yang bagus.
Percaya diri lahir membuat individu harus dapat memberikan pada dunia luar bahwa ia yakin akan dirinya sendiri, melalui pengembangan ketrampilan dalam empat bidang sebagai berikut:
a.       Komunikasi
Ketrampilan komunikasi menjadi dasar yang baik bagi pembentukan sikap percaya diri. menghargai pembicaraan orang lain, berani berbicara didepan umum, tahu kapan harus berganti topik pembicaraan, dan mahir dalam berdiskusi Adalah bagian dari ketrampilan komunikasi yang dapat dilakukan jika individu tersebut memiliki kepercayaan diri.
b.      Ketegasan
Sikap tegas dalam melakukan suatu tindakan juga diperlukan, agar kita terbiasa untuk menyampaikan aspirasi dan keinginan serta membela hak kita, dan menghindari terbentuknya perilaku agresif dan pasif dalam diri.
c.       Penampilan Diri
Seseorang yang percaya diri selalu memperhatikan penampilan dirinya, baik dari gaya pakaian, aksesoris dan gaya hidupnya tanpa terbatas pada keinginan untuk selalu ingin menyenngkan orang lain.
d.      Pengendalian Perasaan
Pengendalian perasaan juga diperlukan dalam kehidupan kita seharihari, dengan kita mengelola perasan kita dengan baik akan membentuk suatu kekuatan besar yang pastinya menguntungkan individu tersebut.
Dari beberapa pendapat para ahli tentang ciri-ciri kepercayaan diri dapat disimpulkan bahwasa seseorang yang memiliki kepercayaan diri diharapkan akan percaya pada kemampuan sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki rasa positif atau optimis terhadap diri sendiri, berani mengungkapkan pendapat.
3.      Faktor-faktor Kepercayaan Diri
Menurut Mangunharja (dalam Alsa, 2006) Faktor-faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri adalah: faktor fisik, faktor mental dan factor sosial.
a.       Faktor Fisik
Keadaan fisik seperti kegemukan, cacat anggota tubuh atau rusaknya salah satu indera merupakan kekuranga yang yang jelas terlihat oleh orang lain. Akan menimbulkan perasaan tidak berharga keadaan fisiknya, karena seseorang amat merasakan kekurangan yang ada pada dirinya jika dibandingkan dengan orang lain. Jadi dari hal tersebut seseoang tersebut tidak dapat bereaksi secara positif dan timbullah rasa minder yang berkembang menjadi rasa tidak percaya diri
b.      Faktor Mental
Seseorang akan percaya diri karena ia mempunyai kemampuan yang cenderung tinggi, seperti bakat atau keahlian khusus yang dimilikinya.
c.       Faktor Sosial
Kepercayaan diri terbentuk melalui dukungan sosial dari dukungan orang tua dan dukungan orang sekitarnya. Keadaan keluarga merupakan lingkungan hidup yang pertama dan utama dalam kehidupan setiap orang.
Menurut Loekmono (dalam Alsa, 2006) Perkembangan kepercayaan diri dipengaruhi oleh:
1.      Faktor-faktor yang berasal dari dalam individu sendiri
2.      Norma dan pengalaman keluarga
3.      Tradisi, kebiasaaan dan lingkungan atau kelompok dimana keluarga itu berasal.
Dari uraian diatas dapat dsimpulkan bahwasanya kepercayaan diri seseorang terbentuk berdasarkan faktor fisik, mental, sosial dalam hal ini
Keadaan keluarga merupakan lingkungan hidup yang pertama dan utama dalam membentuk kepercayaan diri.

     B. PELATIHAN KECERDASAN EMOSI
1.         Pengertian Kecerdasan  Emosi
Kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi fantasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak berlebih-lebihan menikmati kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa (Goleman, 2000).
Kecerdasan emosi menurut Baron adalah kemampuan untuk mengenali diri sendiri, kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain, kemampuan untuk bersikap lentur dan realistis, kemampuan untuk tetap tenang dan mampu dalam menghadapi konflik, serta kemampuan untuk mempertahankan sikap optimis dan positif dalam menghadapi situasi sulit (Stein & Book, 2002).
2.         Aspek-aspek Kecerdasan Emosi
Lima wilayah kecerdasan emosi menurut Salovey (dalam Goleman, 2000) yang dapat dijadikan pedoman individu untuk mencapai kesuksesan sehari-hari, yaitu :
a.    Mengenali emosi diri, merupakan kemampuan untuk mengenali atau mengetahui perasaan sewaktu perasaan itu terjadi dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri serta menyadari emosi yang sedang dialaminya. Ketidakmampuan untuk mengenali perasaan yang sesungguhnya membuat diri berada dalam kekuasaan perasaan. Sehingga dapat berakibat buruk bagi pengambilan keputusan masalah.
Memiliki kesadaran diri, individu juga harus dapat mengenal, memahami kualitas, intensitas, dan durasi emosi yang sedang berlangsung, dan juga penyebab terjadinya emosi itu. Orang yang mampu memantau emosinya secara cermat adalah orang yang dapat mengendalikan hidupnya, mereka tidak hanya sadar akan perasaan dirinya, mereka juga sadar akan pikiran dan hal-hal yang mereka lakukan. Ketika individu juga memiliki kesadaran akan intensitas emosi yang dimilikinya, maka dapat member informasi sejauh mana individu dipengaruhi oleh kejadian itu.
b.    Mengelola emosi, berarti menangani perasaan agar perasaan dapat terungkap dengan tepat, hal ini merupakan kecakapan yang sangat bergantung pada kemampuan mengenali emosi diri. Emosi dikatakan berhasil dikelola apabila : mampu menghibur diri ketika ditimpa kesedihan, dapat melepas kecemasan, kemurungan atau ketersinggungan dan bangkit kembali dengan cepat dari semua itu. Sebaliknya orang yang buruk kemampuannya dalam mengelola emosi akan terus menerus bertarung melawan perasaan murung atau melarikan diri pada hal-hal negative yang merugikan dirinya sendiri.
c.    Memotivasi diri, merupakan kemampuan untuk bertahan dan terus berusaha menemukan banyak cara untuk mencapai tujuan. Orang yang memiliki kemampuan ini lebih tahan dalam menghadapi kegagalan dan frustasi, serta cenderung jauh lebih produktif dan efektif dalam berbagai hal yang mereka kerjakan. Dengan kemampuan memotivasi diri, maka seseorang akan cenderung memiliki pandangan yang positif dalam menilai segala sesuatu yang terjadi dalam dirinya.
d.   Berempati, merupakan kemampuan dalam membaca emosi orang lain,kemampuan merasakan perasaan orang lain melalui ketrampilan, membaca pesan non verbal, nada bicara, gerak-gerik, ekspresi wajah dan sebagainya. Emosi jarang diungkapkan dengan kata-kata, tapi melalui pesan nonverbal. Mengenal emosi orang lain dibangun berdasarkan pada kesadaran diri. Jika seseorang terbuka pada emosi sendiri, maka dapat dipastikan bahwa ia akan terampil membaca persaan orang lian. Sebaliknya orang yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan emosinya sendiri dapat dipastikan tidak akan mampu menghormati perasaan orang lain. Pada umumnya, kaum wanita lebih baik daripada pri adlam berempati.
e.    Berhubungan dengan orang lain, mampu membina hubungan dengan orang lain merupakan ketrampilan sosial yang mendukung keberhasilan dalam pergaulan dengan orang lain. Kunci kecakapan sosial ini adalah seberap baik atau buruk seseorang mengungkapkan perasaannya sendiri serta kemampuan mereka untuk memahami orang lain. Orang yang memiliki ketrampilan sosial tinggi akan dapat membina hubungan interpersonal yang baik, sehingga memiliki banyak teman. Selain itu lebih bertanggung jawab serta memiliki ketrampilan untuk bersosialisasi, seseorang akan mengalami kesulitan dalam pergaulan.
3.         Pengertian Pelatihan Kecerdasan Emosi
a.       Mengenali emosi diri
b.      Mengelola emosi
c.       Memotivasi diri sendiri
d.      Membina hubungan
4.         Karakteristik Kecerdasan Emosi
a.       Kesadaran diri
b.      Pengaturan diri
c.       Motivasi
d.      Empati
e.       Ketrampilan sosial

    C. REMAJA
1.      Pengertian Remaja
Remaja adalah sebagai masa peralihan dari masa anak-anak ke dewasa diawali dengan masa puber yaitu proses perubahan fisik yang ditandai dengan kematangan seksual, kognisi dan psikoseksual yang berkaitan satu sama lain ( Papalia dalam Mukhtar dkk, 2003).
Perubahan-perubahan fisik maupun psikis dapat terjadi berbeda-beda untuk setiap individunya. Perubahan yang terjadi secara fisik dapat terlihat pada tungkai dan tangan, tulang kaki dan tangan, ataupun otot yang berkembang pesat. Dilihat dari segi usia para ahli membagi masa remaja secara berbeda-beda. Masa remaja biasanya dimulai pada usia belasan tahun (12-14 tahun) yaitu bersamaan dengan tumbuhnya tanda-tanda sekunder, misalnya pada wanita yang ditandai oleh datangnya menstruasi yang pertama, pinggul yang melebar, dan juga penimbunan lemak yang membuat buah dadanya mulai tumbuh, tumbuhnya rambut kemaluan. Pada pria ditandai dengan keluarhya jakun, suara mennjadi lebih besar, tumbuhnya bulu-bulu (rambut) di sekitar bibir dan kemaluannya serta mimpinya yang pertama, yang tanpa disadari mengeluarkan sperma. Secara psikologis remaja terkait dengan emosi yang masih labil atau meluap-luap, hal ini erat hbungannya dengan adanya perubahan secara fisik, kognitif, mental, emosional, dan sosial.
2.      Ciri-ciri Masa Remaja
Ciri-ciri masa remaja (Hurlock, 1980) :
a.       Periode yang Penting. Dengan adanya perkembangan fisik yang cepat dan penting disertai dengan cepatnya perkembangan mental yang cepat, terutama pada awal masa remaja. Semua perkembangan itu menimbulkan perlunya penyesuaian mental dan perlunya membentuk sikap, nilai dan minat baru.
b.      Periode Peralihan. Dalam setiap periode ini, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini, remaja bukan lagi seorang anak dan juga bukan orang dewasa.
c.       Periode Perubahan. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik. Selama masa remaha, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan juga sikap dan perilaku menurun juga.
d.      Usia Bermasalah. Setiap periode mempunyai masalah sendiri-sendiri, namun masalah emaja seringkali menjadi masalah sulit diatasi baik oleh laki-laku maupun anak perempuan. Terdapat dua alas an bagi kesulitan itu. Pertama, sepanjang masa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri sehingga mereka ingin mengatasi sendiri masalahnya, menolak bantuan dari orang tua.
e.       Masa Mencari Identitas. Pada tahun-tahun awal masa remaja, peneysuaian diri dengan kelompok masih tetap penting bagi anak laki-laki dan perempuan. Lambat-laun mereka mulai mendambakan identitas diri dan tidak lagi puas lagi dengan menjadi sama dengan teman-teman dalam segala hal, seperti sebelumnya.
f.       Usia Yang Menimbulkan Ketakutan. Anggapan stereotp budaya remaja adalah anak-anak yang tidak rapih, yang tidak dapat dipercaya, dan cenderung merusak menyebabkan orang dewas yang harus membimbing  dan mengawasi kehidupan remaja muda takut bertanggung jawab muda takut bertanggung jawab dan bersikap tidak simpatik terhadap perilaku remaja yang normal.
g.      Masa yang Tidak Ralistik. Remaja cenderung memandang kehidupan melalui kaca berwarna merah jambu. Ia melihat dirinya sendiri dan orang lain sebagaimana adanya, terlebih dalam hal cita-cita. Cita-cita yang tidak realistic ini, tidak hanya bagi dirinya sendiri tapi juga bagi keluarga dan teman-temannya, menyebabkan meningginya emosi yang merupakan cirri dari awal masa remaja. Semakin tidak realistic cita-citanya semakin menjadi marah. Remaja akan sakit hati dan kecewa apabila ia tidak berhasil mencapai tujuan yang ditetapkannya sendiri.
h.      Ambang Masa Dewasa. Dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah, para remaja menjadi gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan untuk memberikan kesan bahwa mereka sudah hamper dewasa. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belum cukup. Oleh karena itu remaja mulai memusatkan diri pada periku yang berhubungan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dengan perbuatan seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.
3.      Tugas Perkembangan Remaja
Tugas-tugas perkembangan emaja menurut Havighurst (dalam Sarwono, 2000), yaitu sebagai berikut :
a.    Menerima kondisi fisiknya dan memanfaatkan tubuhnya secara efektif.
b.    Menerima hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya dari jenis kelamin yang mana pun.
c.    Menerima jenis kelamin masing-masing (laki-laki atau perempuan).
d.   Berusaha melepaskan diri dari ketergantungan emosi terhadap orang tua dan orang dewasa lainnya.
e.    Mempersiapkan karir ekonomi.
f.     Mempersiapkan perkawinan dan kehidupan berkeluarga.
g.    Merencanakan tingkah laku sosial yang bertanggung jawab.
h.    Mencapai system nilai dan etika tertentu sebagai pedoman tingkah lakunya.
4.      Pentingnya Kelompok Pada Remaja
   D. PANTI ASUHAN YATIM PIATU & DHUAFA
Panti Asuhan adalah lembaga kesejahteraan sosial yang mempunyai tanggung jawab untuk memberikan pelayanan kesejahteraan sosial kepada anak terlantar serta melaksanakan penyantunan dan pengentasan anak terlantar melalui pelayanan pengganti atau perwalian anak dalam memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial pada anak asuh sehingga memperoleh kesempatan yang luas, tepat dan memadai bagi perkembangan kepribadiannya sesuai dengan yang diharapkan sebagai bagian generasi cita-cita bangsa dan sebagai insan yang turut serta aktif di dalam bidang pembangunan nasional ( Departemen Sosial, RI, 1995)
Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa yang dimaksud adalah Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa “Tarbiyatul Mubtadi’in” yang dikelola dan didirikan oleh masyarakat untuk membantu melaksanakan penyantunan dan pengentasan melalui pelayanan pengganti atau perwalian di Kecamatan Ngampel Kabupaten Kendal.

. E. EFEKTIVITAS PELATIHAN  KECERDASAN EMOSI TERHADAP PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI PADA REMAJA
Keterkaitan kepercayaan diri dan kecerdasan emosi diri adalah bahwa remaja yang memiliki kecerdasan emosi yang baik maka akan membuatnya mampu bergaul dengan baik, mengenali dirinya, menangani stres, dan memiliki tanggung jawab dalam kehidupannya sehingga akan membuat remaja menjadi lebih percaya diri.
Melalui pelatihan kecerdasan emosi, remaja akan diajarkan untuk lebih mampu mengenali emosi yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepercayaan diri serta mampu menunjukkan potensi yang dimilikinya dan menggunakan potensinya tersebut dengan tepat untuk bergaul dan mengatasi masalah yang dihadapi, sehingga mereka mampu mencapai tujuan hidup denga sukses tanpa merugikan orang lain.
Melalui pelatihan kecerdasan emosi diharapkan remaja lebih mampu untuk  bergaul dan berinteraksi satu sama lain sehingga lebih mampu untuk mengenali perasaan orang lain, memiliki tanggung jawab yang tinggi, serta mampu memelihara dan membina hubungan interpersonal yang saling menguntungkan antara satu dengan lainnya. Setelah mengikuti pelatihan kecerdasan emosi ini diharapkan siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi, dan mampu melihat segala hal sesuai dengan kenyataan. Setelah mengikuti pelatihan kecerdasan emosi ini diharapkan siswa akan lebih mampu bertahan menghadapi situasi yang menimblkan stres serta mampu mengendalikan dorongan untuk melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri maupun orang lain. Melalui pelatihan kecerdasan emosi ini diharapkan siswa mampu menikmati hiduo dan memiliki pandangan optimis yang realistis terhadap masa depan sehingga mampu merasa bahagia daam menjalani kehidupan (dalam Stein & Bokk, 2002).
Pelatihan kecerdasan emosi ini diharapkan dapat membentuk karakteristik remaja yang awalnya kurang memiliki rasa percaya diri menjadi lebih percaya diri, karena hal ini sangat berperan dalam kesuksesan remaja di masa depan.

F     F. HIPOTESIS
Pelatihan kecerdasan emosi dapat meningkatkan kepercayaan diri remaja di Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa “Tarbiyatul Mubtadi’in” Ngampel Kendal.




BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN
1.      Variabel Bebas                        : Pelatihan Kecerdasan Emosi
2.      Variabel Terikat                      : Kepercayaan Diri

B.     DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN
1.         Kepercayaan Diri didefinisikan sebagai  kemampuan diri untuk bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki rasa positif atau optimis terhadap diri sendiri, berani mengungkapkan pendapat.
2.         Pelatihan Kecerdasan Emosi adalah serangkaian tugas yang diberikan kepada peserta pelatihan yang mencakup unsur : pengetahuan, tata cara mengelola emosi sehingga kepercayaan diri para peserta pelatihan meningkat.

C.    SUBJEK PENELITIAN
Subjek penelitian ini remaja Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa “Tarbiyatul Mubtadi’in” Ngampel. Subjek kemudian dipisah menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pemisahan tersebut dilakukan dengan cara random.

D.    METODE PENELITIAN
 Desain eksperimen dalam penelitian ini menggunakan two independent groups design, dengan menggunakan metode analisis independent sample t-test. Subjek penelitian ini berjumlah 20 orang. Subjek remaja   adalah Panti Asuhan Yatim Piatu & Dhuafa “Tarbiyatul Mubtadi’in” Ngampel yang berusia antara 14 – 16 tahun.


DAFTAR PUSTAKA

Afiatin & Budi Andayani, 1996. Konsep Diri, Harga Diri, Dan Kepercayaan Diri Remaja. Jurnal Psikologi Universitas Gadjahmada No. 223-30

Alsa, Asmadi, 2006, Hubungan Antara Dukungan Sosial Orang Tua Dengan Kepercayaan Diri Remaja Penyandang Cacat Fisik. Semarang. Jurnal Psikologi. No.1. 47-48.

Departemen RI, 1995, .....

Goleman, D., 2000, Emotional Intelligence :  Mengapa EI lebih Penting daripa IQ, Jakarta, Gramaedian.

Gunarsa, 1989, Psikologi Olahraga, Jakarta, Penerbit Preastasi Pustakarya.

Hankin, 2004, Strategi Untuk Meningkatkan Rasa Percaya Diri (Terjemahan), Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Hurlock, E.B., 1980. Psikologi Perkembangan : Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan, Edisi Kelima, Jakarta, Erlangga.

Iswidharmanjaya, D & Agung, G., 2004, Satu Hari Menjadi Lebih Percaya Diri, Jakarta, PT. Elex Media Komputindo.

Mukhtar, Ardiyanti, N. & Sulistyaningsih, 2003, Konsep Diri Remaja : Menuju Pribadi yang Mandiri, Jakarta, Rhasta Samasta.

Santrock, J.W., 2003, Perkembangan Remaja Edisi 6, Erlangga, Jakarta.

Sarwono, S.W., 2000, Psikologi Remaja, Jakart, Jakarta.

Stein & Book, H.E., 2000, Ledakan EQ  : 15 Prinsip Dasar Kecerdasan Emosional Meraih Sukses (Terjemahan), Bandung, Kaifa.













Tidak ada komentar:

Posting Komentar